KEBETULAN saya amat menggemari organisasi Pramuka, makanya nama Kwarda Sultra begitu lekat di hati saya, sama lekatnya dengan ingatan anak-anak Pramuka lainnya di Kota Kendari.

Kwarda Sultra memang ‘pusatnya’ perkantoran pramuka di ‘bumi anoa’ ini, di sana tempatnya berkantor, berlatih, bermain, dan mungkin ‘adu strategi politik’ hehehe…(bagi pramuka yang suka cerita politik), namun yang paling berkesan bagi saya justru ‘kehidupan’ di dalamnya. Ada canda tawa, ada rebut-ribut, ada persaingan, dan bagi yang dilanda asmara, Kwarda-lah tempatnya, tetapi bagi saya sebaliknya, bukan asmara, tapi Asrama.

Ya, seperti itulah, ketika bermain di Kota Kendari, maka sasaran utama saya nginap adalah Kwarda, di sana ada penginapan, di sana ada computer, di sana kantor, di sana tempat diklat, di sana ada pondokan, tinggal bilang sama Om Basa, pasti beres. Paling penting mengerti dengan kehidupan Om Basa, tak perlu basa-basi, cukup uang rokok, klop sudah, bisa tidur sampe pulas. Tapi makan-minum tidak ditanggung lho!!

Om Basa, lelaki kelahiran tahun 60-an ini, seorang bujang tulen. Maklum usianya yang sudah tidak lagi muda ini belum memiliki anak-istri,  Ia berasal dari Kabupaten Muna, kulitnya legam, pakaian seadanya, tapi telah mengabdikan diri di Pramuka Sultra sudah 20 tahunan.

Bagi yang tidak mengenal jauh Om Basa, orang terkadang menganggapnya remeh, tetapi bagi yang sudah menjadi ‘penghuni’ Kwarda, Om Basa cukup dihormati sebagai orang tua. Makanya kalo ada anak-anak yang sering ‘memerintah’ Om Basa, maka ‘orang-orang Kwarda’ menegurnya.

Namun begitu, Om Basa tak pernah marah. Mungkin ia paham dengan psikologi seorang anak dan remaja. Tapi yang pasti semua ‘orang kwarda’ yang telah menghilang entah kemana, Om Basa masih menghafalnya. “Saya masih hafal para pejabat Pramuka dari dulu sampai sekarang..anak-anak yang di sini juga sudah tahu betul. adi tak perlu risih dengan omongan-omongan orang,” katanya.

Posisi Om Basa di Kwarda cukup beragam, bisa disebut ‘penjaga kantor’, bisa disebut ‘cleaning Service’, bisa disebut ‘pembantu umum’, apalah, yang penting Om Basa suka dan dapat honor seadanya. “Mau bagaimana lagi, saya kan tidak punya ijazah, jadi tidak perlu macam-macam,” begitu pikiran sederhana Om Basa.

Andai saja Om Basa bertipe lelaki ‘cerewet’ atau lelaki ‘tukang lapor’, boleh jadi Kwarda banyak makan korban, karena laporan Om Basa.

Om Basa-lah orang yang paling banyak tahu tentang lika-liku kehidupan Kwarda. Masalahnya, ia paling banyak tahu remaja-remaja Kwarda yang suka bertingkah semaunya. “Buat apa urus mereka, mereka tahu kok bagaimana yang baik, saya juga tidak mungkin menegur, biasalah anak-anak,” katanya.

Om Basa memang Pramuka tulen. Tak ada orang yang mau mengabdi puluhan tahun dengan honor seadanya. Makanya di tahun 2008, Om Basa pernah dianugrahi Lencana Panca Warsa oleh Kwarda Sultra, sebuah penghargaan yang biasanya diberikan bagi mereka yang berjasa pada pembinaan Pramuka.

Baginya lencana Panca Warsa tidak punya arti apa-apa, tetapi setidaknya Kwarda menghargainya, jadi diterima dengan penuh lapang dada, dan tentunya dengan senang hati. "Kalo saya tidak adaji gunanya, tapi namanya penghargaan.ya saya terima,” tandasnya.

Om Basa memang menjadi sisi lain kehidupan Kwarda Sultra. Om Basa juga bisa menilai kapan tempat ini ramai, sepi dan kapan saatnya orang-orang memanfaatkan tempat ini sebagai arena memadu asmara. Wah, yang ini yang runyam.

Biasaji, hanya kalau macam-macam kita tegur”. Apa yang dimaksud ‘macam-macam’ dari Om Basa, saya tak bisa mengurainya.

Pastinya Kwarda penuh dengan kehidupan romantisme, bagi sebagian aktifis Pramuka, bila tak ada kegiatan, di sanalah tempat mereka kumpul, berkelakar, berhayal, bermain, hingga membahas isu-isu strategis daerah. Makanya jangan heran, banyak sudah yang sukses sebagai ‘produk’ Kwarda Sultra. Menariknya, mereka tak lupa jika sudah berhasil. Sebut saja Gubernur Sultra, H. Nur Alam, SE. Ia dengan lantang mengaku jika dirinya pernah ‘hidup’ di Kwarda.

                                                                                     **

ITU CERITA di akhir Desember 2009, sepuluh tahun lalu. nama Om Basa atau nama lengkapnya Laode Basa bersisa cerita setelah berkalang tanah sekitar ima tahun lalu. beliau benar-benar almarhum, dan kepergiannya menyisakan cerita bila sosoknya memang pekerja keras.

"Lebih banyak berkerjanya dari pada bercerita," papar Kak Irawan Laliasa - Ketua Kwarda Sultra periode 2019-2024. Itu pula sebab organisasi Gerakan Pramuka kembali memberi satu penghargaan penting dalam hidup seorang Om Basa berupa Lencana Darma Bakti. Mungkin ia tengah menikmati bintang Pramuka itu di Surga sana, mengenang kantor kwarda (lama) yang saat ini di tempati pertokoan elite Kota Kendari.

Kini Kwarda beralih tempat di kawasan Bumi Praja Anduonohu - sekitar 20 Km dari tempatnya semula. Tak ada lagi sosok sederhana, terkecuali namanya diabadikan pada sebuah lapangan upacara kantor ini. Lapangan La Ode Basa yang baru sebulan lalu diresmikan pemakaiannya. Al fatiha untukmu Om Basa... (catatan kecil kakak pembina)